Pada Hari Sabtu 14 Maret 2009 telah diadakan Kompetisi MNR di SMP Al-Hikmah Surabaya. Rombongan KeluargaKita berangkat dari Jember sehabis Sholat Maghrib hari Jum’at. Ikut dalam rombongan ini Bapak, Ibu, Adzka, Diba, Ghozi, Aisyah, Aqila, Aulia, ditambah Bu Ujang dan Dika, yaitu anaknya bu Ujang, serta Mbak Indah. Mbak Indah ini rencananya sekalian mau meneruskan perjalanan pulang ke Semarang.
Hari-hari pertengahan Maret ini sudah tidak pernah lagi turun hujan, sehingga sepanjang perjalanan kita juga tidak bertemu hujan. Perjalanan boleh dbilang lancar-lancar saja. Bapak yang menjabat sebagai sopir tunggal KeluargaKita sudah terlalu sering membawa kendaraan ke Surabaya, sehingga lumayan cukup hapal dengan rute Jember – Surabaya. Rata-rata para sopir pembawa kendaraan yang bertemu selama perjalanan ke Surabaya baik-baik. hanya saja pada penggal jalan setelah Tanggul sampai Wonorejo Lumajang sempat direpotkan oleh sebuah Kijang Innova berplat L entah berapa yang sopirnya agak kurang pendidikan.
Dua kali sopir tersebut menyalip rombongan KeluargaKita, padasaat jalan relatif ramai. Yang pertama sebelum Tanggul, namun di lampu merah alun-alun Tanggul kita salip kembali. Namun setelah berada pada ruas jalan yang relatif sepi, Innova di depan menyetel kecepatan sekitar 80 km/jam. Kecepatan ini adalah kecepatan yang “nanggung” istilah Jawanya. Beberapa kali kita beri isyarat untuk menyalip, namun nampaknya sopir Innova tidak peduli, masih dengan enaknya memakai keepatannya sendiri. Padahal Panther tahun 92 yang kita pakai tidak cukup kuat tarikannya untuk menyalip dengan cepat pada kecepatan itu. Mestinya sopir itu mau mengerem kendaraannya sejenak untuk memberi kesempatan kita di depan, toh sudah beberapa km kta menempel di belakangnya, dan dia tidak menambah kecepatan. Menurut saya ada 2 kemungkina jenis sopir yang kurang pendidikan itu: pertama mungkin dia anak orang kaya yang tidak pernah diajari etika oleh orang tuanya yang kaya itu, atau kedua, mungkin dia memang seorang sopir yang IQ-nya kurang. Atau kemungkinan ketiga: dia anak orang kaya yang tidak diajari etika serta IQ-nya kurang. Bagaimanapun cukup menyebalkan untuk berurusan dengan sopir model begini.
Untungnya setelah lewat Wonorejo, entah di sekitar Klakah, Ranuyoso atau mana saya agak lupa, Innova itu tidak lagi di sekitar kita. Entah dia melaju ke depan atau tertinggal saya kurang ingat. Kebetulan jalan memang ramai, sehingga tidak sempat mengamati kendaran satu-satu.
Ruas jalan Porong pada sekitar jam 10 malam sudah sepi. Dari tol kita keluar di Waru, melewati Bunderan, belok kiri mengikuti jalan A Yani atau apa, terus masuk ke kiri di jalan yang ada selokannya, Gayungan atau apa daerahnya agak lupa, pokoknya jalan masuk ke perumahan Injoko seingat saya. Berhubung lokasi tepatnya Al-Hikmah kita belum tahu, maka di jalan berselokan itu kita menyempatkan berhenti sampai 2 kali. Pertama di depan perumahan yang kalau belok masuk bisa tembus ke Unesa itu. Diberitahu bahwa SMP Al-Hikmah terletak setelah melewati Rel KA. Tepat sebelum Rel kita tanya lagi, dan diberi petunjuk yang sangat jelas: lewati rel, ada gerbang di kanan, belok, terus sampai pertigaan ambil kanan, akan sampai di gerbang Al-Hikmah. Betul juga sesuai petunjuk tersebut kita sampai di gerbang Al-Hikmah.
Sampai di SMP Al-Hikmah kira-kira jam setengah 11 malam, bersamaan dengan rombongan dari Lumajang. Malamnya kita dapat “penginapan” di ruang kelas. Anak-anak jadi satu runag dengan Pak Enjang dan Pak Andra dari Lumajang. Pak Sopir lebih suka tidur di jok mobil.
Acara Sabtu pagi dimulai dengan hiruk-pikuk acara rutin daftar ulang, diteruskan pembukaan. Entah jam berapa anak-anak masuk ruang untuk test babak penyisihan. O, ya Fahmi dari Bondowoso datang Sabtu pagi diantar oleh Bu Sri dan Umminya. Semalam menginap entah di mana.
Hasil penyisihan, Reza dari SDN Kepatihan 05 Jember peringkat pertama dengan nilai 56, Diba dapat nilai lumayan bagus yaitu 38, meskipun tidak masuk final, sedang Fahmi memperoleh nilai 42, tidak masuk final juga. Jumlah peserta yang masuk ke babak final ada 33 peserta, dengan nilai banyak yang kembar.
Yang eror betul-betul eror adalah Adzka. nilainya hanya 46. Meskipun masuk final, nilai 46 itu adalah rombongan nilai terjelek yang masuk final. Dan karena yang dipakai adalah sistem nilai kumulatif, maka bekal nilai tersebut cukup berat untuk meraih kemenangan di kompetisi ini. Lebih erornya lagi yang bersangkutan tidak merasa menjawab salah sampai selesai test (belum dikoreksi ulang). Kesimpulannya: kesalahan bukan kerana tidak bisa, melainkan salah hitung! Jadi pastilah berkaitan dengan masalah kecermatan. Nampaknya Adzka terlalu percaya diri di Kompetisi kali ini. Sebenarnya setelah penyisihan sudah agak menyadari kecerobohannya, namun sudah terlambat. Selisih nilai 10 dengan peringkat 1 menyulitkan posisinya untuk menyelamatkan diri pada babak final.
Hasil akhirnya sudah bisa ditebak. Reza bertahan menjadi di peringkat 1 sehingga menjadi Juara 1 Kompetisi ini. Lumayan, dapat piala yang bagus (sangat bagus, apalagi jika dibandingkan dengan piala “taman kanak-kanak” yang diberikan oleh mahasiswa FKIP UNEJ pada minggu sebelumnya), sementara hadiah uangnya lumayan, peringkat 1 memperoleh 1 juta 750 ribu rupiah.
Yang perlu dicermati adalah bahwa pada kompetisi ini, selain Adzka yang perak OSN, 2 anak yang pernah ke kompetisi internasioanalpun – yaitu Krisna dan Alif – tidak menang. Menurut Bu Nurul dari Rumah Belajar Matematika, soalnya terlalu mudah, sehingga 3 anak itu bisa dikalahkan oleh anak-anak yang secara hitungan di atas kertas memiliki kemampuan jauh di bawah mereka. Coba kalau soalnya dibuat lebih sulit, tentu 4 anak itu – ditambah dengan Fildah, anaknya Pak Burhan dari Magetan – yang akan mampu mengerjakan, sementara anak-anak lain sulit untuk mampu mengerjakannya.
Salah satu indikator bahwa soal terlalu mudah adalah Reza memperoleh nilai 56 dari total 60 nilai jika benar semua. Dengan 2 point per soal, artinya Reza cuma salah 2. Dan saya curiga bahwa yang 2 itupun barangkali karena kesalahan kunci jawabannya.
Pertanyaannya kenapa Reza masih bisa menang dengan soal yang mudah tersebut. Nah ini adalah kelebihan Reza yang tidak dimiliki Adzka, Krisna, ataupun Alif. Reza memang berkebiasaan selalu cermat dalam mengerjakan soal, serta cenderung serius ketika menghadapi soal, baik soal sulit maupun mudah. Dan meskipun soal dibuat lebih sulitpun, sepertinya kemampuan Reza memang mengatasi ke-4 temannya itu.
Selamat buat Reza.



makasih tlah berkunjung ke http://jsuwarno.blogspot.com minta informasi alamat MNR, kalo g salah berkedudukan do bogor pak, ya…..
bravo matematika
Mungkin yang dimaksud adalah alamat KPM (bukan MNR), KPM adalah lembaganya sedang MNR adalah konsepnya.
Alamatnya di: http://www.kpminternasional.com/
Terima kasih kembali telah berkunjung ke sini