Hari Ahad (hari ini) Adzka dan Diba mengikuti babak penyisihan Olimpiade Matematika SD yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Matematika FKIP Universitas Jember. Undangan meminta anak-anak berkumpul pada jam setengah tujuh, namun ternyata pelaksanaan lomba dimulai jam 9. Entah apa yang ada di nalar anak-anak mahasiswa yang menjadi panitia itu sehingga perlu-perlunya menyuruh anak-anak datang pagi-pagi. Kalau saya pikir-pikir seringkali memang para mahasiswa itu tidak begitu berjalan normal nalarnya.
Lomba berjalan lancar-lancar saja. Peserta sekitar 180-an anak. Menurut saya biaya pendaftaran terlalu tinggi yaitu 40 000 rupiah. Tapi dasar para mahasiswa itu memang kurang nalar, maka diberi usul untuk menurunkan taripnya ya tidak mau. Memang kita harus perlu maklum kepada nalar para mahasiswa itu. Orang bilang yang waras harus mengalah.
Padalomba kali ini kebanyakan anak-anak – selain gurunya – juga ditemani oleh para orang tuanya. Menurut saya ini merupakan kemajuan besar, karena pada beberapa tahun yang lalu banyak anak-anak hanya beberapa orang tua siswa yang datang menemani anaknya berlomba. Syukurlah bahwa para orang tua makin menyadari pentingnya meluangkan waktu untuk menghargai kegiatan anak-anaknya. Di sisi lain fenomena itu menunjukkan kesadaran pihak sekolah bahwa pelibatan orang tua adalah hal yang baik, bukannya malah dihalangi seperti kebijakan beberapa sekolah beberapa tahun yang lalu.
Artinya di Jember sudah terjadi perkembangan yang bagus mengenai konsep kebersamaan antara sekolah dan orang tua pada proses pendidikan anak. Yah,… lumayan lah…
Kembali ke cerita tentang lomba itu sendiri. Anak-anak mengerjakan soal sekitar lebih kurang 2 jam, atau memang 2 jam? entah saya kurang begitu mengutamakan menghitung waktu. Setelah anak-anak selesai, kemudian lembar jawaban dikoreksi, dan hasilnya diumumkan skitar jam 1 siang lebih sedikit.
Hasilnya adalah Adzka menempati urutan 2, sehingga berhak ikut babak selanjutnya yang akan diadakan minggu depannya, sedang Diba harus puas pada urutan sekitar 40, sehingga tidak bisa mengikuti babak selanjutnya (peserta yang lolos ke semifinal sekitar 36 ataun37 anak, kurang tahu tepatnya, dan saya memang kurang mementingakan untuk menghitung jumlah tepatnya).
Lumayanlah, karena Diba kan baru kelas 4, sementara kakaknya memang sudah kelas 6. Kalau yang kelas 4 peringkatnya terlalu bagus dikhawatirkan nanti malah menjadi terlalu PD dan malah kurang baik bagi perkembangan jiwanya.Toh Diba masih mempunyai kesempatan tahun depan dan tahun depannya lagi.
Demikian laporan sementara. Maaf kamera tertinggal di rumah sehingga tidak ada dokumentasi foto.


Saya alumni, dulu jg salah satu pengurus, memang ada kekurangan dan kelibihan setiap periode kepemimpinan dlm mengdakan olimpiade, saya harap tidak menurunkn minat utk berpartisipasi kegiatan selanjutnya.
Saya juga peserta Olimpiade Matematika FKIP Unej Jember tahun 2008. . .
Salam kenal ya………
saya Afif Pandu A.
Dari SMPN 1 Bondowoso, tapi dulu SDN dabasah 1 Bws…
Kamu juara berapa???