Adalah kejadian yang cukup mengesankan, perjalanan ke Surabaya kali ini. Pak Tas (saya sendiri) bersama Bu Nurul (isteri) dan Adiba, Ghozi, Aqila dan Aulia berangkat dari rumah untuk ke Surabaya sekitar jam 1/2 3 pagi. Biasa dengan mengendarai teman tua kita panther yang (aslinya) berwarna merah tua tahun jauh sebelum angka 2000 dipakai sebagai tahun.
Awalnya sih, lancar-lancar saja. Lampu menyala terang, pokoknya kebanyakan beres deh. Namun mendekati Lumajang rasanya ada yang kurang beres, lampu 90 watt kita kok sepertinya agak meredup. Saya curiga aki tidak terisi, makanya langkah pertama kita adalah mematikan AC dan membuka jendela.
Naik dari Lumajang ke arah utara, ternyata meredupnya lampu tambah meyakinkan, dan tiba-tiba, entah di daerah mana, sepertinya setelah Ranuyoso, tiba-tiba mak “pet” lampu depan alias head lamp berhenti menyala alias tidak menyala alias padam.
Tentu saja hal tersebut cukup membahayakan untuk perjalanan malam, maka kita lalu minggir setelah sebelumnya mencari pinggiran yang agak lebar.
Lampu saya ambil, saya tes (dengan disambungkan langsung ke terminal aki), ternyata tidak putus. Lha lalu kenapa tidak menyala (jawabnya adalah karena tegangan aki terlalu rendah sehingga tidak mampu menyambungkan kontak pada relay lampu – saya tahu hal ini baru setelah sampai Surabaya, pada saat peristiwa tersebut masih belum tahu).
setelah yakin bola lampu tidak putus, lalu saya coba menghidupkan kembali lampu depan, ternyata mau menyala lagi, maka kita pun berangkat meneruskan perjalanan lagi. namun mendekati jembatan sebelum pabrik kertas Leces, lampu padam lagi. Mobil kita carikan tempat agak terang dan kita pinggirkan. Berhenti sambil berpikir apa yang perlu dilakukan?
Akhirnya kita putuskan untuk meneruskan perjalanan ke masjid depan pabrik kertas leces dengan hanya mengandalkan lampu kota. dengan pelan-pelan serta jalan di pinggir akhirnya bisa masuk ke halaman masjid yang ternyata sedang banjir (padahal biasanya tidak pernah banjir, minimal selama berkali-kali parkir di halaman masjid tersebut pada berbagai perjalanan).
Meskipun banjir masuk juga ke halaman masjid dan mencari tempat yang agak tidak terlalu dalam airnya. Saat itu sekitar pukul 4 pagi, jadi kita putuskan untuk sekalian menunggu waktu subuh. mesin kendaraan sementara itu tidak berani dimatikan (yakin aki tekor dan tidak mungkin bisa start lagi kalau mesin mati).
Setelah sholat subuh lampu saya coba nyalakan, ternyata bisa nyala, maka mobil saya arahkan untuk keluar halaman masjid. Namun ternyata sampai pintu luar, lampunya mati lagi. Akhirnya kita bawa mobil masuk lagi untuk menunggu hari agak terang.
Baru setelah jam 5 lebih berapa saya agak lupa, jalanan sudah cukup terang sehingga saya berani mengendarai mobil hanya mengandalkan lampu kota. Dan lama-lama hari semakin terang sehingga akhirnya lampu kota pun boleh dipadamkan.
keluar dari kota probolinggo lalu lintas mulai pelan merayap. Menurut berita di Pasuruan tyerjadi banjir yang cukup parah di jalan utama sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Pikir saya lumayan parah juga, kalau macetnya sampai di Probolinggo (baru pada perjalanan pulang saya tahu bahwa kondisi jalan memang penuh lubang sehingga tanpa banjirpun kendaraan tidak bisa bergerak cepat).
Setelah merayap pelan dan sering berhenta-berhenti, akhirnya entah di daerah mana, kendaraan dibelokkan ke kiri oleh polisi. Selanjutnya kita mengikuti jalan kecil ke selatan. Lumayan jauh juga, setelah itu belok ke barat, setelah itu belok keselatan lagi (semuanya pelan lho!) Dan di jalan kecil itu lebih banyak berhentinya dibanding berjalannya. Walhasil, dari keluar kota probolinggo sekitar jam 1/2 6 pagi, keluar dari pasuruan sudah sekitar jam 9 atau 1/2 10.
saya belum cerita bahwa pperjalana ke Surabaya hari itu rencana semula mau mengikutkan Adiba (dan Ghozi) untuk mengikuti KMNR di Al-Hikmah. Namun ternyata yang semestinya jam 9 adalah waktu untuk mulai mengerjakan soal babak penyisihan, malah kita masih ada di pasuruan, ya entah nanti bagaimana, pokoknya kita teruskan perjalanan ke Surabaya.
Jam 1/2 11 sudah melewati bundaran waru, sampai di depan dinas peternakan, setelah al-hikmah tinggal sedikit lagi ke utara terus belok kiri, setelah sekian lama berdoa agar mesin tidak mati, namun ternyata apa yang kita takutkan dari semalam terjadi: MESIN MATI!, dan terjadinya di tengah jalan, di jalur tengah lagi. Akhirnya di tengah padatnya lalu lintas surabaya jalan A Yani, entah bagaimana saya dan isteri berhasil mendorong mobil ke tepi. Okelah: time out! istirahat dulu sambil nanti berpikir.
Lama-lama capai juga bercerita.
yang penting pointnya adalah
- hati-hati menyiapkan kendaraan sebelum bepergian.
- manusia merencana, tapi Allah punya rencana yang lain.
kelanjutannya? kalau sempat.